Ibu Penjual Kue Itu Selalu Shalat Tepat Waktu… Ternyata Ini Alasannya

FIZZIA - Di sudut pasar yang riuh dan bau amis, ada sebuah pemandangan yang selalu menarik perhatian saya. Seorang ibu paruh baya, penjual kue basah sederhana.

Dagangannya tak banyak, untungnya mungkin tak seberapa. Tapi ada satu prinsipnya yang "aneh" di mata manusia modern yang serba sibuk: Dia tidak pernah menunda sholat.


Pernah suatu siang, lapaknya sedang ramai-ramainya dikerubuti pembeli. Tiba-tiba, suara Adzan Dzuhur berkumandang dari masjid seberang.


Detik itu juga, tanpa ragu sedikitpun, ibu itu berhenti melayani. Dengan senyum santun dia berkata pada para pembeli yang sedang memegang uang, "Mohon maaf Ibu-ibu, 'Bos Besar' saya sudah memanggil. Saya tutup dulu 15 menit ya. Kalau berkenan menunggu silakan, kalau terburu-buru mohon maaf sekali."


Saya yang melihatnya dari jauh cuma bisa melongo. Logika bisnis saya berontak. "Bu, itu duit di depan mata! Kenapa nggak diselesain dulu sih? Kan sholat bisa nanti jam 1 atau jam 2?"


Rasa penasaran itu akhirnya tak terbendung. Suatu hari saat lapaknya agak sepi, saya memberanikan diri bertanya.


"Bu, maaf lancang. Kenapa Ibu berani sekali meninggalkan pembeli demi sholat di awal waktu? Apa Ibu nggak takut kehilangan rezeki?"


Ibu itu menatap saya. Matanya teduh sekali, tidak ada guratan kekhawatiran di wajahnya yang mulai keriput. Jawabannya pelan, tapi menghantam dada saya dengan keras:


"Nak, pembeli-pembeli itu... mereka cuma perantara. Mereka cuma kurir. Pemberi Rezeki yang sebenarnya itu Gusti Allah."


Beliau menarik napas panjang lalu melanjutkan, "Kalau Adzan sudah bunyi, itu artinya Yang Punya Rezeki sedang memanggil saya untuk menghadap. Logikanya, Nak... masa saya lebih mementingkan melayani 'kurir' daripada memenuhi panggilan Sang Pemilik Harta?"


"Saya takut, Nak. Kalau saya menunda-nunda memenuhi panggilan Allah, saya takut Allah juga menunda-nunda menurunkan keberkahan untuk keluarga saya."


Saya terdiam seribu bahasa. Malu. Rasanya seperti ditampar bolak-balik.


Selama ini saya—dan mungkin banyak dari kita—terlalu sibuk mengejar "kurir-kurir" rezeki (pekerjaan, klien, proyek) sampai mengabaikan Sang Pemilik Rezeki. Kita sering memosisikan Allah sebagai "nomor sekian" setelah urusan dunia beres.


Ibu penjual kue itu mengajarkan saya satu ilmu tauhid tingkat tinggi yang tidak diajarkan di bangku kuliah: Bahwa ketenangan hidup dimulai saat kita berani memprioritaskan Allah di atas segalanya.


Dan ajaibnya, meski sering "tutup lapak", kue ibu itu selalu habis sebelum sore. Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang mendahulukan-Nya.


Sahabat, yuk kita introspeksi. Jangan sampai kesibukan kita mencari nafkah justru menjauhkan kita dari Sang Pemberi Nafkah.

Posting Komentar

0 Komentar