32 Tahun Menghilang, Denah Itu yang Mengantar Pulang

FIZZIA - Kereta itu meraung, dan dalam hitungan detik, hidup seorang anak bernama Zainuddin berubah selamanya.

Ia masih bocah—tak sampai tujuh tahun—ketika kakinya terpeleset masuk ke gerbong yang hendak berangkat dari sebuah stasiun kecil di Cilacap. Tak ada keluarga yang melihat. Tak ada tangan yang sempat menariknya kembali. Hanya suara pintu yang menutup rapat… dan jeritan kecil yang tenggelam oleh deru mesin.


Di rumah, ibunya panik. Ia berlari sepanjang desa, memanggil-manggil nama anak bungsunya itu. Hari berubah malam. Malam berubah menjadi minggu. Tidak ada kabar. Tidak ada jejak.


Harapan ibu itu mulai retak, tapi tidak pernah padam.


Selama 32 tahun, setiap suara kereta yang lewat membuat dadanya sesak, seolah masih ada kemungkinan anak itu turun di salah satu peron.


---


Sementara itu, ratusan kilometer dari sana, Zainuddin tumbuh sebagai laki-laki tanpa asal-usul. Ia dibesarkan di sebuah panti asuhan di Jakarta—bukan karena dititipkan, tetapi karena ditemukan seorang warga setelah terombang-ambing di kota besar tanpa identitas.


Ia mengingat kereta. Ia mengingat tangis. Ia mengingat dirinya kecil di peron yang dingin. Tapi ingatan tentang rumah? kabur. Wajah ibu? hilang. Nama ayah? kosong.


Yang tersisa hanya denah stasiun yang terus menempel di benaknya seperti bayangan yang tidak mau pergi. Tidak jelas… tapi tidak pernah hilang.


Waktu berlalu.

Ia bersekolah.

Ia bekerja.

Ia menikah.

Ia punya anak.


Namun setiap kali menutup mata pada malam hari, satu pertanyaan menvsuk dada:


“Siapa aku sebenarnya? Darimana aku datang?”


Hingga suatu malam, setelah bertahun-tahun mencoba melupakan tapi gagal, ia mengambil secarik kertas. Dengan tangan gemetar, ia menggambar denah stasiun yang menghantui ingatannya sejak kecil—peron, belokan, jalan kecil, rumah dekat tikungan rel. Hanya itu yang ia punya.


Ia memotret gambarnya.

Ia unggah ke media sosial.

Ia tulis satu kalimat:


“Saya hilang sejak kecil. Ada yang tahu stasiun ini?”


Ia tidak berharap banyak.

Tapi harapan tidak butuh banyak—cukup satu orang yang tepat.


Komentar itu datang tak lama kemudian:


> “Bang, ini mirip Stasiun Sitinggil, Cilacap.”


Jantung Zainuddin seperti dipvkul ker4s. Kata Cilacap terasa familiar, seolah jiwa kecilnya berteriak dari masa lalu.


Lalu komentar lain mengalir.

Satu menyebut dusun tertentu.

Satu lagi menyebut nama keluarga.

Dan seseorang berkata pelan:


“Di sana ada seorang ibu yang kehilangan anaknya puluhan tahun lalu. Ceritanya mirip sekali.”


Dunia Zainuddin berhenti.


Ia akhirnya tersambung melalui video call dengan keluarga yang disebut oleh netizen itu.

Ketika kamera menyala, seorang perempuan tua muncul di layar—wajahnya penuh keriput, matanya sembab seperti orang yang sudah terlalu sering menangis.


Begitu melihat wajah Zainuddin, perempuan itu menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar keras.

Ia memegang layar seolah takut anak itu menghilang lagi.


“Nak… Zainuddin… itu kamu?”


Suara itu… entah kenapa terasa paling dikenalnya sepanjang hidup.


Zainuddin tak bisa menjawab. Air matanya jatuh duluan.


“Ibu… saya… saya nggak ingat apa-apa. Tapi… kalau benar, saya pulang…”


Perempuan tua itu menangis keras. Bukan tangis sedih—tapi tangis seseorang yang akhirnya menemukan kembali separuh jiwanya.


---


Beberapa hari kemudian, Zainuddin berdiri di depan rumah kecil di Cilacap yang terasa asing tapi hangat. Ketika pintu terbuka, ibunya langsung memeluknya. Pelukan yang tertunda 32 tahun.


Tidak ada kalimat puitis.

Tidak ada dialog panjang.


Yang ada hanya dua manusia yang saling kehilangan terlalu lama—menangis dalam pelukan pertama yang seharusnya terjadi ketika ia masih anak-anak.


“Maafkan Ibu, Nak…” suara ibunya pecah, “Ibu nggak kuat waktu kamu hilang. Tapi Ibu nggak pernah berhenti nunggu…”


Zainuddin menggenggam tangan ibunya yang keriput tapi hangat.

“Saya yang hilang, Bu… Tapi Tuhan masih kasih jalan untuk pulang.”


Di halaman rumah itu, kedua kakaknya ikut menangis. Tetangga berkerumun, sebagian tak percaya bocah yang hilang puluhan tahun lalu kini berdiri di depan mereka sebagai laki-laki dewasa.


Namun pada hari itu… semua keraguan runtuh.

Karena mata seorang ibu tidak pernah salah dalam mengenali darah dagingnya sendiri.


Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zainuddin tidur di rumah yang seharusnya menjadi tempat pertamanya dulu.

Ia menatap langit-langit sambil memeluk bantal. Air matanya turun pelan.


Bukan air mata sedih—tapi lega.

Lega karena ia akhirnya punya jawaban untuk pertanyaan hidupnya.

Lega karena ia akhirnya tahu kemana ia pulang.

Lega karena kasih ibu… bisa men3mbus waktu selama itu.


Dan semua itu…

dimulai dari denah stasiun sederhana yang tersimpan di kepalanya selama 32 tahun.



Posting Komentar

0 Komentar